Skip ke Konten

Ahmad Yani Bahas Migrasi, Akulturasi, dan Peran Bugis-Makassar dalam Orasi Ilmiah

31 Agustus 2026 oleh
Ahmad Yani Bahas Migrasi, Akulturasi, dan Peran Bugis-Makassar dalam Orasi Ilmiah
Admin SPI

Humas IAIN Parepare- Pembukaan Kuliah Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 di IAIN Parepare yang berlangsung, Senin ( 30/08/2026) di Auditorium dengan nuansa akademik.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah orasi ilmiah yang disampaikan oleh Ahmad Yani, yang mengangkat tema “Dari Perang Makassar hingga Hari Ini: Migrasi, Akulturasi, dan Peran Bugis-Makassar.” Orasi tersebut mengajak civitas academica untuk melihat kembali perjalanan sejarah Bugis-Makassar sekaligus memahami relevansinya dalam dinamika masyarakat masa kini.

Dalam orasinya, Ahmad Yani menempatkan Perang Makassar sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah Sulawesi Selatan yang tidak hanya berkaitan dengan konflik politik dan militer, tetapi juga menjadi titik balik yang memengaruhi mobilitas penduduk Bugis-Makassar ke berbagai wilayah Nusantara. Peristiwa sejarah tersebut, menurutnya, perlu dibaca secara lebih luas karena dampaknya tidak berhenti pada berakhirnya peperangan, melainkan berlanjut dalam bentuk migrasi, pembentukan komunitas, serta interaksi sosial dan budaya di berbagai daerah.

“Sejarah tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjelaskan bagaimana masyarakat terbentuk dan bergerak hingga hari ini,” ujar Ahmad Yani dalam orasinya. Ia menjelaskan bahwa migrasi masyarakat Bugis-Makassar merupakan fenomena historis yang berlangsung dalam berbagai periode dan didorong oleh beragam faktor, mulai dari dinamika politik, ekonomi, perdagangan, keamanan, hingga pencarian ruang kehidupan yang lebih baik.

Migrasi tersebut kemudian melahirkan jaringan sosial dan ekonomi Bugis-Makassar yang membentang di berbagai kawasan Nusantara. Komunitas Bugis-Makassar tidak sekadar hadir sebagai kelompok pendatang, tetapi turut membangun hubungan dengan masyarakat lokal melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, keagamaan, pemerintahan, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan. Proses tersebut melahirkan ruang perjumpaan antarkebudayaan yang dinamis.

Ahmad Yani juga menekankan pentingnya memahami akulturasi sebagai proses yang memperlihatkan kemampuan masyarakat Bugis-Makassar beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa sepenuhnya kehilangan identitas asalnya. Nilai-nilai budaya seperti _siri’ na pacce,_ semangat _sompe’_ atau merantau, etos kerja, solidaritas, serta kemampuan membangun jaringan sosial menjadi bagian penting dalam perjalanan diaspora Bugis-Makassar di berbagai wilayah.

Menurutnya, sejarah migrasi Bugis-Makassar juga memperlihatkan bahwa identitas budaya bukanlah sesuatu yang statis. Identitas terus mengalami negosiasi melalui interaksi dengan lingkungan sosial yang baru. Karena itu, akulturasi tidak semestinya dipahami sebagai hilangnya budaya asal, tetapi sebagai proses kreatif yang memungkinkan lahirnya bentuk-bentuk kebudayaan baru melalui perjumpaan antara tradisi lokal dan tradisi pendatang.

Memasuki era globalisasi dan perkembangan teknologi digital, Ahmad Yani mengajak mahasiswa untuk melihat sejarah Bugis-Makassar dengan perspektif yang lebih kritis. Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui bahwa masyarakat Bugis-Makassar memiliki sejarah panjang tentang migrasi dan perdagangan, tetapi juga perlu memahami bagaimana pengalaman sejarah tersebut dapat menjadi modal sosial untuk membangun jejaring, memperkuat toleransi, serta berkontribusi dalam kehidupan masyarakat yang semakin terbuka dan multikultural.

Orasi ilmiah tersebut sekaligus menjadi pesan penting dalam mengawali perkuliahan Semester Gasal 2026/2027. Sejarah, menurut Ahmad Yani, bukan sekadar kumpulan peristiwa yang dihafalkan, melainkan sumber pengetahuan untuk membaca perubahan zaman. Dari Perang Makassar, perjalanan migrasi, proses akulturasi, hingga kiprah Bugis-Makassar di berbagai ruang sosial Nusantara, terdapat pelajaran tentang ketahanan, kemampuan beradaptasi, dan pentingnya membangun peradaban melalui perjumpaan antarmanusia. Pembukaan semester pun menjadi momentum bagi mahasiswa IAIN Parepare untuk menatap masa depan dengan tetap berpijak pada kesadaran sejarah dan kekayaan budaya Nusantara.

Penulis: Saidin Hamzah

Editor: Mifda Hilmiyah

di dalam Berita SPI
Ahmad Yani Bahas Migrasi, Akulturasi, dan Peran Bugis-Makassar dalam Orasi Ilmiah
Admin SPI 31 Agustus 2026
Share post ini
Label
Arsip