Humas IAIN Parepare – Dosen IAIN Parepare, Ahmad Yani, tampil sebagai narasumber dalam kegiatan Diseminasi dan Diskusi Umum Mappamula tradisi Pertanian kepada Generasi Muda Sidrap yang berlangsung di Auditorium Anregurutta K.H. Abdurrahman Ahmad, IAI DDI Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Minggu (12/7/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema "Menghidupkan Tradisi Pertanian Masyarakat Bugis: Dari Ritual Menuju Ketahanan Pangan Berbasis Budaya." Acara ini dihadiri Rektor IAI DDI Sidrap H. Mansur, Wakil Rektor II H. Abdul Kadir, Wakil Rektor III Mujahidin, para wakil dekan, dosen, serta ratusan mahasiswa yang antusias mengikuti diskusi mengenai pentingnya pelestarian tradisi pertanian sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bugis.
Dalam pemaparannya, Ahmad Yani menegaskan bahwa pertanian masyarakat Bugis tidak semata-mata dipahami sebagai aktivitas ekonomi, melainkan sebagai cara hidup (way of life) yang menyatukan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. "Sawah bukan hanya ruang produksi pangan, tetapi juga ruang budaya tempat nilai gotong royong, spiritualitas, dan penghormatan terhadap alam diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa tradisi pertanian Bugis menyimpan kekayaan pengetahuan lokal yang lahir dari pengalaman masyarakat selama ratusan tahun. Pengetahuan mengenai musim tanam, arah angin, kondisi tanah, sistem pengairan, pengendalian hama, hingga kalender lokal seperti Bilangeng Dua Pulo merupakan warisan intelektual yang selama ini diwariskan melalui praktik budaya dan ritual masyarakat.
Ahmad Yani juga mencontohkan bahwa sebagian masyarakat Bugis masih mengenal konsep Ase Taung dan Ase Elle sebagai penanda musim tanam. Menurutnya, kearifan lokal tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat Bugis telah memiliki sistem pengetahuan pertanian yang adaptif jauh sebelum berkembangnya teknologi pertanian modern.
Lebih lanjut, ia menguraikan empat nilai utama yang terkandung dalam tradisi pertanian Bugis. Pertama , nilai spiritual, yakni bertani dipandang sebagai bentuk ibadah dan hasil panen merupakan anugerah dari Tuhan. Kedua , nilai ekologis, yaitu menjaga keseimbangan alam melalui pelestarian hutan, sumber air, dan pengendalian hama secara alami. Ketiga , nilai sosial, berupa semangat gotong royong, musyawarah, dan saling membantu antarwarga. Keempat , nilai pendidikan, karena tradisi menjadi media pembelajaran bagi generasi muda untuk memahami kehidupan, budaya, dan lingkungan.
Menurut Ahmad Yani, derasnya arus modernisasi telah menyebabkan banyak tradisi pertanian mulai ditinggalkan. Karena itu, generasi muda perlu didorong untuk tidak hanya menguasai teknologi pertanian modern, tetapi juga memahami dan melestarikan kearifan lokal sebagai modal penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Ahmad Yani berharap lahir kesadaran baru di kalangan generasi muda Sidrap bahwa pelestarian tradisi pertanian bukan sekadar menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi strategi membangun kemandirian pangan, menjaga kelestarian lingkungan, serta memperkuat identitas budaya Bugis di tengah tantangan zaman. Ia menegaskan bahwa masa depan pertanian Indonesia akan semakin kuat apabila kemajuan teknologi mampu berjalan berdampingan dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
Penulis: Saidin Hamzah
Editor: Mifda Hilmiyah