Skip ke Konten

Mengulang Zaman Nabi Nuh A.S.: Membangun Bahtera Iman di Tengah Krisis Peradaban Modern

Opini: Saidin Hamzah Dosen Sejarah Peradaban Islam FUAD IAIN Parepare
9 Juli 2026 oleh
Mengulang Zaman Nabi Nuh A.S.: Membangun Bahtera Iman di Tengah Krisis Peradaban Modern
iain Parepare, [email protected]

Kisah Nabi Nuh A.S. sering dipahami sebatas cerita tentang banjir besar dan kapal penyelamat. Padahal, jika dicermati lebih dalam, kisah ini adalah potret peradaban yang mengalami krisis moral, krisis spiritual, dan krisis akal sehat. Yang menarik, kondisi itu memiliki korelasi yang kuat dengan realitas kehidupan manusia modern saat ini.

Nabi Nuh A.S. diutus ketika masyarakatnya telah kehilangan orientasi hidup. Mereka tidak lagi menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan, tetapi menciptakan "tuhan-tuhan" baru sesuai keinginan mereka. Dahulu berhala itu berupa patung-patung Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr. Hari ini, bentuknya memang berbeda, tetapi hakikatnya sama. Berhala modern hadir dalam bentuk penyembahan terhadap kekuasaan, kekayaan, popularitas, teknologi, bahkan media sosial. Ketika manusia lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kejujuran, lebih mengejar pengakuan manusia daripada ridha Allah, sesungguhnya mereka sedang membangun berhala-berhala baru.

Yang lebih memprihatinkan, kaum Nabi Nuh bukan menolak dakwah karena kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan. Mereka merasa status sosial, harta, dan kecerdasan menjadikan mereka lebih benar. Sikap ini juga tampak dalam kehidupan sekarang. Tidak sedikit orang menilai kebenaran berdasarkan siapa yang berbicara, bukan berdasarkan isi pesannya. Orang yang sederhana sering diremehkan, sementara mereka yang memiliki kekuasaan dan popularitas dianggap selalu benar, meskipun keliru.

Kisah Nabi Nuh juga mengajarkan bahwa perubahan besar hampir selalu dimulai oleh kelompok kecil. Selama 950 tahun berdakwah, hanya sedikit yang beriman. Secara statistik, dakwah Nabi Nuh tampak "tidak berhasil". Namun ukuran keberhasilan dalam pandangan Allah bukanlah banyaknya pengikut, melainkan keteguhan dalam menjalankan amanah. Di era sekarang, ketika segala sesuatu diukur dengan jumlah pengikut, jumlah tayangan, dan viralitas, kisah Nabi Nuh mengingatkan bahwa nilai sebuah perjuangan tidak ditentukan oleh popularitas, tetapi oleh konsistensi dalam menyampaikan kebenaran.

Bahtera Nabi Nuh juga memiliki makna yang sangat relevan. Kapal itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kesiapan menghadapi masa depan. Nabi Nuh membangun kapal jauh sebelum banjir datang. Banyak orang menertawakannya karena tidak memahami apa yang sedang dipersiapkan. Demikian pula hari ini. Membangun pendidikan, memperkuat keluarga, menanamkan akhlak kepada anak-anak, menjaga lingkungan, dan memperkuat iman mungkin tampak biasa. Namun semua itu adalah "bahtera" yang akan menyelamatkan manusia ketika badai kehidupan datang.

Ironisnya, manusia modern justru sedang menghadapi berbagai "banjir" dalam bentuk yang berbeda. Banjir informasi yang sulit dibedakan antara fakta dan hoaks, banjir konsumerisme yang membuat manusia tidak pernah puas, banjir budaya instan yang mengikis kerja keras, banjir konflik sosial akibat ujaran kebencian, hingga banjir kerusakan lingkungan yang sebagian besar merupakan akibat ulah manusia sendiri. Semua ini menjadi peringatan bahwa kehancuran sebuah peradaban tidak selalu datang dalam bentuk air, tetapi dapat hadir melalui keruntuhan nilai-nilai kemanusiaan.

Pelajaran paling menyentuh dari kisah Nabi Nuh adalah ketika putranya sendiri, Kan'an, memilih tidak ikut naik ke bahtera. Ia merasa gunung akan mampu menyelamatkannya. Kepercayaan dirinya ternyata menjadi awal kehancurannya. Ini menjadi refleksi bahwa kecanggihan teknologi, kekuatan ekonomi, jabatan, maupun kecerdasan intelektual tidak akan mampu menyelamatkan manusia tanpa keimanan dan ketundukan kepada Allah. Keselamatan tidak ditentukan oleh siapa orang tua kita, melainkan oleh pilihan hidup yang kita ambil.

Pada akhirnya, kisah Nabi Nuh bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin bagi setiap zaman. Pertanyaannya bukan lagi apakah banjir besar akan datang, melainkan apakah kita telah menyiapkan "bahtera" kehidupan berupa iman, ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial untuk menghadapinya.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kepentingan dan ambisi, pesan Nabi Nuh tetap bergema dengan kuat: jangan biarkan kesombongan menutup hati, jangan menunda kebaikan hanya karena mayoritas memilih jalan yang salah, dan jangan pernah lelah mempertahankan kebenaran meskipun harus berjalan bersama sedikit orang. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa yang menyelamatkan manusia bukanlah banyaknya pengikut, melainkan ketaatan kepada Allah dan keteguhan memegang nilai-nilai kebenaran.

di dalam Opini SPI
Mengulang Zaman Nabi Nuh A.S.: Membangun Bahtera Iman di Tengah Krisis Peradaban Modern
iain Parepare, [email protected] 9 Juli 2026
Share post ini
Label
Arsip