"Apabila manusia ditimpa kesusahan, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Namun setelah Kami hilangkan kesusahan itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami..."
(QS. Yunus [10]: 12)
Ada sebuah kisah sederhana yang sering terjadi dalam kehidupan manusia. Seorang musafir hendak menyeberang dari satu pulau ke pulau lain. Kampung yang dituju dipisahkan oleh hamparan lautan yang luas. Ketika perahu mulai meninggalkan dermaga, angin bertiup pelan. Namun di tengah lautan, ombak tiba-tiba meninggi, langit menggelap, dan perahu berguncang hebat. Wajah-wajah yang semula tenang berubah pucat. Saat itulah lidah yang sebelumnya sibuk dengan urusan dunia mendadak fasih menyebut nama Allah. Kalimat "Ya Allah... Ya Rabb... Selamatkan kami..." keluar tanpa henti. Tasbih, istighfar, dan doa mengalir dari bibir yang dipenuhi harapan.
Namun, ketika ombak mereda dan perahu akhirnya menyentuh bibir pantai, semuanya berubah. Orang yang tadi menangis dalam doa kini kembali sibuk dengan urusannya. Lidah yang beberapa menit lalu tak lelah berzikir mendadak diam. Seolah-olah Allah hanya dibutuhkan di tengah badai, bukan di daratan yang tenang. Seolah-olah keselamatan yang baru saja diraih adalah hasil kemampuan sendiri. Ia mengalami "amnesia spiritual": lupa kepada Tuhan setelah pertolongan datang.
Inilah potret yang digambarkan Al-Qur'an dalam Surah Yunus ayat 12. Allah tidak sedang menceritakan kisah orang lain; Allah sedang membuka tabiat manusia yang sering berulang sepanjang zaman. Saat sakit, masjid penuh dengan doa. Saat sehat, waktu salat terasa sempit. Saat ekonomi terpuruk, tangan terangkat memohon rezeki. Ketika kekayaan datang, sedekah menjadi berat dan syukur mulai memudar. Ketika ujian datang, Allah dipanggil dengan penuh kerendahan hati. Tetapi ketika nikmat diberikan, nama-Nya perlahan menghilang dari ingatan.
Ironisnya, dalam banyak keadaan, Tuhan justru diperlakukan seperti pihak yang bersalah. Ketika doa belum dikabulkan, Allah dipertanyakan. Ketika musibah datang, Tuhan dianggap tidak adil. Namun ketika nikmat melimpah, sedikit sekali yang mengingat untuk berkata, "Ini semua karena rahmat Allah." Seakan-akan Allah hanya dicari saat dibutuhkan, lalu dilupakan ketika keadaan kembali normal. Judul "Tuhan Bagai Tertuduh" bukanlah tuduhan kepada Allah, melainkan kritik terhadap manusia yang menjadikan Tuhan sekadar tempat pelarian saat krisis, bukan pusat kehidupan setiap saat.
Padahal hakikat ibadah bukan hanya tentang meminta, tetapi juga tentang mengingat. Orang beriman tidak mengenal Allah hanya ketika ombak besar datang, tetapi juga ketika laut tenang. Sebab ketenangan pun adalah karunia yang sama besarnya dengan keselamatan dari badai. Bahkan sering kali, nikmat yang paling berbahaya bukanlah kesulitan, melainkan kenyamanan yang membuat manusia lupa kepada Pemberi nikmat.
Hari ini, "lautan" itu bukan hanya lautan yang sesungguhnya. Lautan bisa berupa ruang operasi rumah sakit, ruang sidang, ujian akademik, krisis ekonomi, kegagalan usaha, atau tekanan hidup. Di tengah semua itu, manusia begitu dekat kepada Allah. Tetapi setelah semuanya berlalu, banyak yang kembali tenggelam dalam kesibukan dunia. Zikir digantikan oleh kesombongan, doa digantikan oleh rasa cukup, dan syukur digantikan oleh perasaan bahwa semua keberhasilan adalah hasil jerih payah sendiri.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa ukuran kedewasaan iman bukanlah seberapa khusyuk kita berdoa ketika kesulitan datang, melainkan seberapa istiqamah kita mengingat Allah ketika hidup terasa mudah. Sebab orang yang benar-benar mengenal Tuhannya akan tetap berzikir di tengah ombak maupun di tepi pantai. Ia sadar bahwa keselamatan bukanlah akhir dari doa, tetapi awal dari rasa syukur yang lebih dalam.
Apakah kita hanya mengenal Allah ketika berada di tengah lautan kehidupan, ataukah kita tetap mengingat-Nya ketika kaki telah menginjak daratan? Jangan sampai lidah yang dahulu basah oleh zikir berubah kering karena merasa sudah aman. Sebab nikmat terbesar bukan sekadar selamat dari badai, melainkan tetap dekat kepada Allah setelah badai itu berlalu. Itulah iman yang sejati: tidak menjadikan Tuhan sebagai tempat singgah saat susah, tetapi sebagai tujuan hidup dalam setiap keadaan.